#Media Indonesia


Hidup Sehat dengan Satu Ginjal

MENYAMBUT Hari Ginjal Sedunia yang tahun ini jatuh pada 12 Maret, ada baiknya kita mengakrabkan diri dengan kata 'sakit ginjal'. Sampai hari ini, kata sakit ginjal bisa mengundang rasa takut. Seorang pasien yang didiagnosis menderita sakit ginjal bisa langsung syok. Bayangannya ialah harus cuci darah seminggu dua kali atau bahkan tiga kali yang menyedot biaya sangat besar dan keterbatasan gerak fisik tubuhnya, bahkan mungkin lebih dari itu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penderita sakit ginjal sangat syok ketika dokter memvonis gagal ginjal tahap akhir dan memberinya dua pilihan: harus cuci darah atau cangkok ginjal. Andaikan waktu bisa putar, semua pasien penyakit ginjal kronis pasti berjanji mengikuti semua saran dokter tanpa membantah. Namun, apa hendak dikata, sudah terlambat. Pasien gagal ginjal kronis harus memilih salah satu opsi, cuci darah atau cangkok ginjal. Apakah penyakit ginjal sedemikian menakutkan?

Mengantisipasi Wabah Virus Corona Wuhan

HEBOH wabah virus korona jenis baru di Tiongkok sekarang ini mengingatkan kejadian 17 tahun lalu. Pada November 2002, muncul laporan awal merebaknya wabah SARS (severe acute respiratory syndrome, sindrom pernapasan akut) di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Barangkali untuk menjaga kepercayaan publik, awalnya pemerintah Tiongkok berusaha menutupi dan tidak melapor ke WHO. Namun, karena situasi makin genting, pemerintah Tiongkok akhirnya melapor ke WHO pada Februari 2003. Wabah berbahaya ini ternyata menyebar sangat cepat. Hanya dalam waktu setengah tahun, sampai Juli 2003, dilaporkan sudah ada 8.069 kasus dan 775 orang meninggal. Sedemikian hebatnya ancaman wabah ini sampai WHO menyatakan sebagai emergensi global.

Stunting, Mengancam Bonus Demografi

ISU kesehatan paling menarik perhatian publik sepanjang 2019 ialah tentang karut-marutnya BPJS. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dilaksanakan Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) ini sebenarnya program unggulan. Cakupannya yang sangat massal menjadikan program ini disebut sebagai lompatan besar kebijakan kesehatan. Akan tetapi, kehadiran BPJS ini membawa dua implikasi yang berbeda. Di satu sisi, program ini sangat membanggakan karena membawa kita melangkah ke arah pemerataan layanan kesehatan yang bisa mencakup seluruh warga negara. Namun, di sisi lain, manajemen BPJS masih belum sanggup mengatasi masalah utamanya. Sampai hari ini BPJS sebagai pelaksana JKN masih defisit atau tekor triliunan rupiah sehingga memerlukan suntikan dana dari pemerintah. Sedemikian sulitnya mengatasi soal ini, pemerintah sampai menaikkan iuran peserta BPJS yang memicu gelombang protes masyarakat. Keruwetan BPJS ini menempati rangking teratas dalam daftar isu kesehatan yang paling menyedot perhatian masyarakat.

Mewaspadai Bahaya Obesitas

Rumah Ginjal - Di grup Whatsapp kesehatan beredar anekdot, "Pengendara sepeda ialah bencana bagi perekonomian negara. Mereka tak beli mobil, bensin, tak bayar parkir, dan tak pernah ke dokter. Sebaliknya, restoran cepat saji ialah berkah perekonomian, termasuk bagi klinik, apotik, dan pusat kebugaran, karena meningkatkan jumlah pasien penderita obesitas." Anekdot ini membuat kita tersenyum getir. Obesitas atau kegemukan dianggap menjadi problem negara. Apakah obesitas sudah menjadi ancaman? Respons menghadapi kegemukan ini beragam. Ada yang cukup dengan berolah raga di rumah atau sekadar jalan kaki tiap pagi, ikut senam kebugaran, atau diet. Yang malas olahraga, tapi pengin cepat turun bobot, bisa datang ke klinik liposuction (sedot lemak), asal mampu bayar. Dari sisi medis, penting untuk menangani obesitas. Kegemukan atau kelebihan berat badan ialah pintu masuk bagi sederetan penyakit berat, seperti gangguan jantung dan ginjal. Makin gemuk (obese) seseorang, makin besar risiko tubuhnya kena gangguan penyakit, seperti hipertensi. Jika tekanan darah seseorang melebih batas normal 140/90 mm Hg, aliran darah ke ginjal akan terhambat tidak lancar. Jika tak segera ditangani, bisa mengarah ke gagal ginjal. Jadi, kegemukan bisa menjadi pintu gerbang masuknya hipertensi, dan potensial mengarah ke gagal ginjal.

Menekan Pertumbuhan Penderita Gagal Ginjal

Rumah Ginjal - SAAT seseorang terkena penyakit gagal ginjal, yang dibayangkan ialah bagaimana menghadapi situasi yang berat ini. Tiap minggu harus cuci darah dengan biaya yang mencekik leher. Jika sudah terkena gagal ginjal kronis, hidup rasanya penuh penderitaan. Jumlah penderita gagal ginjal kronis di Indonesia terus meningkat. Laporan keuangan BPJS 2016 menunjukkan, pada 2013 ada 15.128 pasien baru gagal ginjal, dan meningkat jadi 17.193 pasien pada 2014. Naik lagi menjadi 21.050 pada 2015, dan terus naik menjadi 25.446 pasien pada 2016. Angka pertumbuhan yang fantastis.