Efek Obat Pereda Nyeri terhadap Kesehatan Ginjal
Penggunaan obat nyeri di kehidupan sehari-hari sangatlah lazim pada kalangan masyarakat umum. Obat anti-nyeri kerap kali digunakan untuk mengatasi nyeri pada lutut, nyeri saat haid, dan juga sebagai pereda nyeri kepala dan gigi. Obat-obatan tersebut memang sangat dibutuhkan oleh pasien karena pada saat serangan nyeri, kualitas hidup pasien sangatlah berkurang. Kualitas kerja yang memburuk, hilang konsentrasi saat belajar, atau waktu beristirahat dan liburan yang menjadi tidak menyenangkan kerap kali menjadi tujuan pasien datang berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Tak heran terkadang pada saat awal sakit, pasien datang berkonsultasi kepada dokter bukan untuk memahami sepenuhnya penyakitnya namun hanya agar bisa beraktivitas kembali secara normal. Namun para sobat Rumah Ginjal nampaknya harus mulai berhati-hati karena penggunaan obat pereda nyeri jangka panjang bukan tidak memiliki efek negatif bagi tubuh, khususnya untuk kesehatan organ ginjal kita tercinta.
Obat Pereda Nyeri
Obat pereda nyeri secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu obat anti-inflamasi dan opioid. Obat anti-inflamasi tersebut dibagi lagi menjadi dua yaitu yang berbahan dasar steroid (lemak) dan non-steroid. Obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) adalah jenis obat yang paling sering beredar di masyarakat dan kerap kali digunakan untuk nyeri yang berulang. OAINS menguasai sekitar 5-10% dari semua obat yang diresepkan setiap tahun (Wongrakpanich et al. 2018. Aging Dis. https://dx.doi.org/ 10.14336/AD.2017.0306). Parasetamol, Ibuprofen dan Aspirin adalah beberapa contoh OAINS yang beredar luas di pasaran dan banyak digunakan oleh masyarakat awam untuk meredakan nyeri. Sebuah tinjauan pustaka melaporkan bahwa penggunaan obat-obatan jenis ini jumlahnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2013 misalnya, jumlah pemakaian Aspirin di negara-negara Eropa, misalnya di Finlandia, mencapai ~80 dosis harian yang ditentukan (i.e., perkiraan dosis pemeliharaan rata-rata per hari untuk obat yang indikasi utamanya untuk digunakan pada individu dewasa) per hari per 1000 penduduk. Angka ini ~1.3x lipat lebih banyak dibanding tahun 1993 atau 20 tahun sebelumnya (~60 dosis per hari per 1000 penduduk). Sementara itu, penggunaan Parasetamol di Denmark pada tahun 2013 mencapai ~60 dosis per hari per 1000 penduduk (~1.2x lipat dibanding tahun 1997) dan di Finlandia, penggunaan Ibuprofen mencapai ~50 dosis per hari per 1000 penduduk atau ~3.3x lipat dibanding tahun 1993 (Kristensen et al. 2016. Nat Rev Endocrinol. https://doi.org/10.1038/nrendo.2016.55). Di Amerika Serikat, data dari National Health And Nutrition Examination Survey (NHANES) 1988–1994 dan 1999–2004 juga menunjukkan peningkatan penggunaan OAINS (16.6% vs. 26.1%) pada peserta studi yang secara keseluruhan berjumlah lebih dari 30 ribu orang tersebut (Davis et al. 2017. Open Heart. https://doi.org/10.1136/openhrt-2016-000550).
Dampak Obat Pereda Nyeri bagi Ginjal
OAINS bekerja dengan menghambat dua jenis protein yaitu enzim cyclooxygenase-1 / COX-1 dan COX-2. COX-1 terdapat pada beberapa organ penting yaitu lambung, sel darah trombosit, dan ginjal sedangkan COX-2 memicu sistem radang yang terjadi dalam tubuh. Secara medis, kita hanya ingin menghentikan kerja dari enzim COX-2 saja, namun obat pereda nyeri tersebut secara otomatis juga menghambat COX-1. Efek hambat dari enzim COX-1 ini dalam jangka waktu yang panjang dapat berefek berbahaya bagi tubuh. Organ lambung kita dapat kehilangan lapisan pelindung sehingga gampang terluka dan berdarah, efek pada sel trombosit adalah menghambat proses pembekuan darah. Organ ginjal kita juga dapat mengalami kerusakan karena menurunnya pasokan darah ke ginjal.
OAINS mampu menginduksi berbagai kelainan fungsi ginjal, terutama pada pasien berisiko tinggi untuk mengalami penurunan perfusi darah ginjal. Selain itu, penimbunan atau retensi cairan juga merupakan komplikasi ginjal yang paling umum terjadi akibat penggunaan OAINS jangka panjang, namun edema yang dapat dideteksi secara klinis terjadi pada kurang dari 5% pasien dan dapat kembali normal jika obat tersebut dihentikan. Komplikasi elektrolit terutama hiperkalemia, jarang terlihat pada orang sehat dan sering terjadi pada pasien berisiko tertentu seperti pasien yang mengalami gagal ginjal (Wongrakpanich et al. 2018. Aging Dis. https://dx.doi.org/10.14336/AD.2017.0306).
Bila menilik pasien gagal ginjal kronis, tentunya manajemen nyeri sangat menantang dan tidak boleh sembarangan. Pasien-pasien ini memiliki kerentanan yang meningkat terhadap efek obat yang merugikan karena metabolisme dan ekskresi obat yang berubah, dan ada data keamanan yang terbatas untuk digunakan meskipun beban nyeri yang tinggi. OAINS telah lama dianggap berbahaya untuk digunakan pada pasien ginjal karena risiko nefrotoksisitas (merusak ginjal) sehingga dengan demikian kelas analgesik alternatif, termasuk opioid, telah menjadi lebih umum digunakan untuk mengontrol nyeri pada populasi ini. Menariknya, sebuah tinjauan pustaka sistematis yang melibatkan 49.209 pasien dengan gagal ginjal kronis melaporkan bahwa prevalensi penggunaan OAINS di kalangan pasien dengan gagal ginjal kronis masih sebesar 8-21% dan bahkan dapat mencapai 33% (Lefebvre et al. 2020. Clin Kidney J. https://dx.doi.org/10.1093/ckj/sfz054).
Mengingat jumlah pasien yang menggunakan OAINS tanpa resep semakin meningkat dan jumlahnya relatif besar, maka dokter perlu berhati-hati dalam meresepkan obat pereda nyeri pada pasien khususnya pasien gagal ginjal kronis. Dari sisi pasien pun juga harus lebih bijaksana dalam membeli obat pereda nyeri karena jangan sampai ketidaktahuan kita mengakibatkan kerusakan organ kita tercinta yaitu ginjal. Segera konsultasikan kepada dokter anda bila anda mengalami nyeri berkepanjangan yang tidak kunjung berakhir. []
Sumber gambar: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2857733/hati-hati-obat-jenis-ini-merusak-ginjal-jika-dikonsumsi-jangka-panjang